Transformasi Kotatua Ke Panggung Kreatif

Dalam sekejap, ribuan orang yang memenuhi taman fatahilah sabtu malam (13/3) dibuat takjub oleh pertunjukan yang ada didepan mereka. Gedung fatahillah yang semula berdiri kokoh di depan mereka tiba-tiba berubah menjadi hutan rawa seperti keadaan taman Fatahillah pada tahun 1200-an sebelum VOC menjadikannya pusat pemerintahan. Transformasi kemudian berlanjut, gedung fatahillah yang berusia 3 abad tersebut “berdiri kembali”, namun kali ini gedung tersebut dicoret-coret dengan gambar batik. Tak lama kemudian para penari topeng betawi, musisi rock, pemain gamelan, pesilat merebut kembali kawasan tua itu sebagai tempat berkumpul dan ruang bagi orang-orang kreatif.

Transformasi museum fatahillah dari masa lampau ke masa depan tersebut adalah hasil kolaborasi D-Fuse (UK), Adi Panuntun (Sembilan Matahari), Sakti Parantean (Fictionary Films), Feri Latief, Dan Taqarrabie dengan dukungan British Council dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Mereka menggunakan teknologi proyeksi 3 dimensi (3D) video mapping yang baru ditemukan di Eropa 3 tahun lalu.

“Bagus banget, sangat kreatif. Lighting-nya bagus,” tutur Arum (19), salah satu penonton.

Programme Officer British Council, Winda Wastu Melati menyatakan pertunjukan seni video maping 3D yang merupakan hasil 3 proyektor berkekuatan 15.000 megawatt ini baru pertama kali digelar di Indonesia.

“Untuk membuat video maping 3D ini, museum Fatahillah diukur secara detail setiap centinya dan tidak bisa digunakan pada bangunan lain,” tutur Winda.

Director film sembilan matahari Sakti Parantean ini menjelaskan, selain ini menjadi pemutaran perdana video maping 3D di Indonesia, pemutaran ini merupakan pertunjukan video maping 3D pertama di dunia yang menggunakan narasi.

“Butuh proses efektif selama 2 bulan, mulai dari mencari kemungkinan tampak muka, pengukuran, hingga syuting,” jelas Sakti.

Video yang merupakan hasil 3 proyektor berkekuatan 15.000 megawatt ini diputar setelah Gubernur Jakarta Fauzi Bowo meluncurkan konsep Jakarta Kota Kreatif. Meskipun hanya diputar selama 10 menit, pertunjukan ini mampu menyihir ribuan penonton hingga hanya terdegar kata “wah” selama pertunjukkan berlangsung.

Yuli (24), salah satu penonton yang khusus datang untuk melihat pertunjukkan spektakuler ini menyatakan kekagumannya pada hasil karya anak bangsa tersebut, meskipun menurutnya masih terdapat kekurangan pada video mapping ini.

“Bagus, tapi efeknya kurang. Saya sudah lihat video mapping yang diputar di Inggis lewat Youtube, sepertinya lebih bagus,” tutur Yuli.

Jakarta Kota Kreatif

Pemutaran video mapping 3D ini adalah salah satu event yang merupakan bagian dari pencanangan kerjasama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan British Council selama 3 tahun untuk menciptakan Jakarta Kota Kreatif.

Deputi Gubernur Bidang Budaya dan Pariwisata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Aurora Tambunan mengatakan kerjasama ini dapat direalisasikan dalam bidang seni, pariwisata, maupun pendidikan. Pemerintah DKI Jakarta akan mentransformasikan gedung dan bangunan tua yang semula hanya menjadi gudang akan menjadi “panggung” dan ruang eksperimen bagi kaum muda untuk melakukan hal-hal kreatif.

“Mudah-mudahan dalam 3 tahun akan banyak anak muda diseluruh Jakarta yang mengembangkan Jakarta Kreatif. Kotatua ini akan menjadi panggung dari orang-orang kreatif Jakarta dan video mapping ini adalah salah satu langkah awal,” tutur Aurora.

Aurora menambahkan event pertunjukkan ini adalah salah satu strategi pemerintah dalam program revitalisasi Kotatua. Program revitasiasi Kotatua ini dilakukan untuk mengembangkan kawasan Kotatua sebagai wilayah budaya, melestarikan heritage, serta memunculkan potensi ekonomi Kotatua.

Salah satu wujud munculnya potensi ekonomi DKI Jakarta adalah peluncuran cendera mata oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta. Selama ini DKI Jakarta tidak memiliki buah tangan khas Jakarta selain makanan yang sulit dibawa untuk lokasi jauh. Selain menjadi buah tangan, pengusaha muda anggota Kadin Jakarta Fathiya Harmidy menyatakan program ini bukan sekedar bisnis kriya melainkan strategi pencitraan bagi kota Jakarta sebagai ibu kota.

“Cinderamata khas Jakarta ini nantinya akan memunculkan industri baru di DKI Jakarta,” tutur Yuliandre Darwis, Juru Bicara Kadin DKI Jakarta

Selain itu, pemerintah provinsi DKI Jakarta juga berencana untuk mentransformasi salah satu gedung tua milik BUMN untuk dijadikan salah satu kampus Institut Kesenian Jakarta. Menurut Aurora, dengan adanya institusi pendidikan maka anak banyak orang yang rutin ke kawasan Kotatua.

“IKJ akan mewarnai kehidupa Kotatua. Kita juga berencana mengisi akhir pekan di Kotatua dengan berbagai kegiatan supaya masyarakat datang ke kawasan ini,” tambah Aurora.

Read more...

Menelusuri Jejak Kotatua

“Zaman dahulu sistem perbankan sudah cukup canggih. Pintu brankas ini sistemnya otomatis, jadi akan terbuka jam 5 pagi dan tertutup secara otomatis jam 5 sore. Jadi kalau ada yang nggak keluar jam 5 sore, ya terpaksa tunggu jam 5 pagi,” tutur seorang guide menjelaskan pintu brankas otomatis yang ada di museum Bank Mandiri yang disusul tawa oleh rombongan wisatanya.

Wisata Kotatua ini sudah dimulai sejak pukul 8 pagi dengan tujuan pertama Museum Bank Mandiri. Memasuki musem Bank Mandiri kita akan merasakan aura perbankan pada abad ke-17. Pada masa itu pencatatan kegiatan perbankan masih sangat sederhana dengan menggunakan buku yang ukurannya sangat besar, meskipun sudah menggunakan sistem pintu brankas otomatis.

Setelah asik melihat-lihat kegiatan perbankan masa lalu, tujuan selanjutnya adalah museum Bank Indonesia yang terletak tepat disamping museum Bank Mandiri. Berbeda dengan museum Bank Mandiri, pengunjung di museum Bank Indonesia diajak memahami sejarah Indonesia dan sistem perbankan Indonesia melalui teknologi yang cukup canggih, salah satunya berupa komputer layar sentuh. Teknologi canggih ini tentunya menjadi sarana yang menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar.

Perjalanan kemudian berlanjut ke museum wayang, museum seni dan keramik,museum fatahillah, dan museum sejarah Jakarta. Setiap museum memiliki cerita khas tersendiri. Ada saja cerita dari bangunan-bangunan indah tersebut yang tidak tercantum dalam buku sejarah sekolah yang sebenarnya menarik untuk diceritakan. Museum wayang misalnya, sebelumnya bentuk bangunannya tidak seperti museum wayang yang kita lihat saat ini. Bentuk museum wayang yang asli sudah roboh oleh gempa bumi dan dapat kita lihat di museum fatahillah.

Selain itu, cerita dibalik bangunan-bangunan sejarahnya pun sangat menarik, misalnya saja bagunan-bangunan tua Belanda yang tidak memiliki jamban dan membuang kotorannya di baskom untuk kemudian dibuang ke tempat pembuangan hingga akhirnya menyebabkan penyakit disentri yang ketika itu membunuh banyak penduduk Batavia karena belum ada obatnya.

Abad ke-17

Berbeda dengan sudut-sudut kota Jakarta yang sudah dipenuhi dengan bangunan-bangunan modern, hampir seluruh sudut kawasan Kotatua dipenuhi dengan bangunan-bangunan bergaya arsitektur Belanda. Ada beberapa yang terawat, tapi banyak yang terabaikan.

Beberapa bangunan tua yang terawat biasanya sudah beralih fungsi menjadi museum, café, bank, ataupun hotel. Sedangkan yang tidak digunakan biasanya akan dibiarkan begitu saja, yang kemudian akhirnya termakan oleh usia dan tangan-tangan jahil.

Setiap gedung memiliki cerita tersendiri, demikian juga dengan kawasan kota sendiri yang dahulu merupakan pusat pemerintahan Batavia. Kota tua ini berawal dari kota Jayakarta yang dibangun oleh Fatahilah di atas lahan bekas Sunda Kelapa pada tahun 1527. Ketika itu, luas kota tersebut tidak lebih dari 15 hektar dengan pola tata kota tradisional Indonesia. Namun, kota Jayakarta ini akhirnya hancur diserang VOC Belanda yang ketika tahun 1619 dipimpin oleh Jan Pieterzoon Coen.

Di atas reruntuhan kota Jayakarta ini, Belanda kemudian membangun kota baru yang diberi nama Batavia. Nama Batavia ini diberikan sebagai penghormatan terhadap kaum Batavieren, suku bangsa Eropa yang menjadi nenek moyang orang-orang Belanda tersebut. Kota baru tersebut terletak disebelah timur sungai Ciliwung dengan pusat kota kini masih terlihat disekitar Taman Fatahilah sekarang, Orang-orang pribumi Batavia dijuluki Batavianen (orang Batavia) yang kemudian diucapkan menjadi orang Betawi.

Kota Batavia pada tahun 1635 kemudian diperluas ke sebelah barat Sungai Ciliwung di atas bekas kota Jayakarta yang hancur. Kota ini dirancang lengkap dengan sistem pertahanannya berupa tembok dan parit sekeliling kota. Tata ruang kota dibagi ke dalam blok-blok yang dipisahkan oleh kanal. Pembangunan kota Batavia in baru rampung pada 1650. Setelah pendudukan Jepang pada 1942, nama Batavi diganti menjadi Jakarta.

Kini, 4 abad setelahnya, kawasan Kotatua yang memiliki luas ± 846 Ha ini menjadi salah satu alternatif wisata, baik bagi wisatawan lokal maupun asing. Gedung-gedung tua berarsitektur Belanda ini memiliki detil keindahan yang tidak dimiliki bangunan-bangunan saat ini hingga tak salah jika banyak wisatawan yang berkunjung dan berfoto.

Komunitas Jelajah

Gedung-gedung tua pastinya tidak bisa lepas dari sejarah. Terlebih gedung tersebut adalah peninggalan 4 Abad lalu. Di kawasan Kotatua ini tak banyak yang mengetahui sejarah setiap gedung, sebagian wisatawan hanya memanfaatkan gedung-gedung tua tersebut untuk berfoto tanpa mengenali lebih jauh sejarah gedung-gedung tua tersebut.

Akibatnya, ada saja tangan-tangan jahil yang merusak berbagai aset sejarah. Misalnya saja coretan-coretan iseng yang bisa kita temukan di beberapa sudut gedung di Museum Fatahillah. Bahkan ada coretan iseng hasil tangan jahil yang terlihat disebuah lukisan yang sebenarnya tidak boleh disentuh.

“Generasi muda sekarang banyak yang tidak tahu sejarah. Makanya banyak yang melakukan vandalisme di gedung-gedung bersejarah tanpa tahu nilai sejarah dari apa yang dirusaknya,” tutur Dirgantara Bombom Pengurus

Karena itulah muncul beberapa komunitas pecinta sejarah dan bangunan tua yang kemudian membuat beberapa kegiatan jelajah wisata Kotatua. Jelajah wisata Kotatua tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin mengenal sejarah tersebut dan menceritakan beragam sejarah bangunan tua. Mulai dari cerita-cerita dibalik setiap benda yang ada di museum-museum, hingga kebiasaan-kebiasaan kaum Belanda pada masa lalu.

Annisa (19) misalnya, salah satu peserta wisata jelajah Kotatua yang mengaku sudah 4 kali mengikuti kegiatan jelajah Kotatua. Mahasiswa sastra Indonesia Universitas Indonesia ini mengaku tertarik dengan cerita-cerita menarik yang melekat pada bangunan-bangunan tua

“Lebih asik ikutan jelajah dengan komunitas seperti ini. Kita bisa tahu cerita-cerita yang menarik, fakta-fakta kecil yang tidak ada di buku sejarah,” tutur Annisa.

Kegiatan “belajar sejarah” ini pun menjadi sangat menarik jika disajikan secara menarik. Misalnya saja dengan berkeliling Kotatua menggunakan sepeda ontel atau mengikuti jamuan layaknya orang-orang Belanda masa lalu yang diselenggarakan oleh Komunitas Jelajah Budaya ataupun komunitas-komunitas lainnya.

Namun, jika Anda berjalan-jalan sendiri dengan keluarga, teman, atau kerabat dan ingin menelurusi Kotatua yang cukup luas, Anda dapat memanfaatkan sepeda ontel yang disewakan di sekitar museum Fatahillah. Sepeda Ontel ini dapat Anda sewa dengan mengeluarkan uang Rp 15.000 untuk satu jam peminjaman.

Anda juga dapat memilih sendiri sepeda ontel mana yang akan Anda pilih. Selain itu, Anda juga dapat memijam peta kawasan Kotatua agar tidak tersasar. Penyewaan sepeda ontel tersebut bahkan menyediakan topi yang biasa digunakan orang-orang Belanda zaman dulu yang dipasangkan dengan sepeda ontel. Dengan menggunakan sepeda ontel untuk mengelilingi Kotatua, Anda pasti akan semakin merasakan atsmosfer masa lalu.

Read more...

Guruh Soekarno Putra:

Beralih Ke Panggung Politik

Jalan sore...
kita berjalan-jalan sore-sore
Gairah muda
rindu akan kebebasan
Bersuka, bercita
untuk memperluas pergaulan

Masih ingatkah Anda dengan lirik lagu diatas? Lagu diatas berjudul jalan-jalan sore yang pernah populer pada tahun 80-an yang diciptakan oleh Guruh Soekarnoputra. Putera bungsu presiden pertama RI ini terkenal aktif menggeluti seni pertunjukan tari dan musik melalui Swara Mahardika dan kemudian GSP (Gencar Semarak Perkasa) Production setelah Swara Mahardika dibubarkan.

“Sama kemampuannya, baik musik maupun tari, tapi ini bukan soal bakat melainkan kegemaran,” tutur Guruh menjelaskan kegemarannya pada kedua bidang tersebut.

Swara Mahardika didirikan oleh Guruh Soekarnoputra pada tahun 1977. Awalnya, Guruh ingin mendirikan parta politik. Tetapi pada masa orde baru hal tersebut tidaklah mungkin. Akhirnya Guruh pun mendirikan organisasi masyarakat (ormas) dalam bentuk Swara Mahardika.

“Pada masa orde baru, anak-anak muda takut berbicara politik karena takut dicap komunis. Akhirnya banyak yang cenderung hedonis. Paling komunikatif itu adalah kesenian untuk mendidik generasi muda”, ujar Guruh.

Guruh menganggap musik dan tari adalah bahasa yang universal. Salah satu kegiatan Swara Mahardika, adalah menyelenggarakan seni pertunjukan. Setiap selelsai berlatih, Guruh mengatakan selalu memberikan ceramah baik mengenai sejarah, kenegaraan, atau bahkan politik yang biasanya dibungkus dengan hal lain.

Namun, dalam perkembangannya Guruh merasa Swara Mahardika lebih sering dimanfaatkan sebagai batu loncatan untuk menjadi artis. Akhirnya, melalui musyawarah besar pada tahun 1986, Guruh memutuskan untuk melarang pertunjukan dengan nama Swara Mahardika. Swara Mahardika kemudian berubah menjadi Yayasan Swara Mahardika. Guruh kemudian mendirikan GSP Production yang memang tujuannya diperuntukkan bagi bisnis pertunjukkan.

Kini, Guruh sedang sibuk mempersipkan diri untuk maju menjadi calon ketua umum PDIP. Meskipun demikian, Guruh mengaku masih menyempatkan diri untuk menengok GSP Production.

Disela-sela kesibukannya, Guruh juga masih menyempatkan diri bermain ping-pong yang selama ini menjadi olahraga kegemarannya. Dalam hal memilih makanan, pria kelahiran 13 Januari 1953 ini mengaku tidak pilah-pilih. Dia menyukai semua jenis makanan.

“Saya suka semua jenis makanan, entah itu makanan asia, eropa, bahkan makanan kampung. Sama dengan musik, saya suka semua jenis musik,” tambah Guruh.

Bukan hanya dalam hal makanan dan musik, Guruh tidak pilah pilih. Dalam membaca bukupun demikian. Saat ini bahkan Guruh sudah memiliki sekitar 30.000 judul buku dari berbagai jenis, mulai dari komik hingga buku-buku manajemen yang terseimpan dalam perpustakaan dikediamannya, di Jalan Sriwijaya. Kegemarannya pada kesenian dan buku tidak terlepas dari peran kedua orang tuanya, Presiden Soekarno dan Ibu Fatmawati.

“Bapak suka mengkoleksi buku. Ibu bahkan selalu memasok setumpuk buku setiap minggu untuk saya. Kini, saya bercita-cita membuka perpustakaan terbuka untuk umum,” tutur Guruh sambil tersenyum.

Guruh mengaku kedua orang tuanya sangat kompak dalam mendidik putra-putrinya dengan tidak terlalu menggunakan verbal, melainkan memberikan teladan.

“Bapak itu penyayang, tidak pernah membunuh nyamuk. Bahkan pohon yang sudah hampir matipun tidak boleh dipotong. Bapak juga tidak suka bonsai. Bonsa itu berarti mengkerdilkan kehidupan,” kenang Guruh.

Menjadi Ketua umum PDIP

Pada tanggal 16 Januari lalu, Masyarakat sempat dikejutkan dengan pengumuman yang dikeluarkan oleh Guruh. Guruh menyatakan diri siap menjadi calon Ketua umum PDIP. Dia mengaku sudah berkeliling Indonesia untuk mengumpulkan aspirasi kader partai PDIP ditingkat grassroot.

“Mereka menginginkan pimpinan PDIP tetap dari darah Soekarno,” ujar Guruh.

Meski demikian, Guruh menambahkan para kader partai ini meminta Megawati untuk berhenti. Guruh bahkan juga mendapatkan dukungan dari sebagian kader partai untuk maju menjadi Ketua umum PDIP.

“Saya keluarga Soekarno. Saya tahu kemampuan saya. Dalam memimpi, saya akan berpegang pada pancasila, ” tegas Guruh.

Menurut Guruh, presiden-presiden Indonesia sebelumnya kurang memilik ideologi, dan satu-satunya yang memiliki ideologi adalah Soekarno. Karena itulah Guruh bertekad untuk tetap maju sebagai calon ketua umum PDIP karena merasa mewarisi ideologi ayahnya tersebut.

“Selama ini yang dikenal hanya pancasila, tapi tidak diperkenalkan Pak Karno sebagai satu-satunya pencetus pancasila serta ajaran Pak Karno lainnya, seperti marheinisme. Padahal marheinisme adalah penjabaran dari pancasila,” ujar Guruh.

Menurutnya, pancasila adalah sifat kekeluargaan. Dalam pancasila tidak dikenal partai oposisi seperti yang diperankan oleh PDIP. Jika pemerintah mengambil kebijakan yang salah maka harus ditentang, dan sebaliknya, jika kebijkan pemerinth benar maka harus di dukung. Sedangkan oposisi selalu menentang pemerintah.

“Jika saya terpilih menjadi ketua umum PDIP, saya tidak akan menyatakan PDIP itu partai oposisi, tapi partau pancasila,” tambah Guruh.
Read more...

Mencegah Penyakit Musim Hujan

Mulai bulan Oktober-April, Indonesia dilanda musim hujan. Bahkan sejak Januari, rasanya hujan tidak pernah berhenti menyiram beberapa kota di Indonesia, salah satunya Jakarta. Musim hujan ini tentunya merubah lingkungan disekitar kita. Perubahan lingkungan inilah yang dapat menyebabkan perubahan kondisi tubuh.

Dampak langsung terhadap tubuh kita misalnya, basah karena terkena hujan yang kemudian dapat menimbulkan penyakit. Selain itu juga terdapat dampak tidak langsung karena terjadinya genangan air yang memudahkan jentik nyamuk berkembang biak.

“Bahkan banjir akibat hujan juga dapat menyebabkan rumah menjadi kotor dan sumber air bersih berkurang. Karena itu memang di musim hujan ada beberapa penyakit yang berisiko meningkat kejadiannya,” tutur Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD (K).

Perubahan dari musim panas ke musim hujan dapat lebih mudah menimbulkan penyakit influenza dengan penularan melalui butiran ludah yang beterbangan di udara. Untuk itu Samsuridjal menyarankan bagi orang usia lanjut agar menghindari kontak dengan penderita influenza serta meningkatkan perlindungan terhadap influenza dengan vaksinasi influenza.

Terapi influenza dapat dilakukan untuk mengurangi penderitaan dan memperpendek masa sakit. Biasanya, terapi ini diberikan dalam bentuk terapi simtomatik untuk mengurangi demam, batuk dan pilek.

“Sekarang sebenarnya sudah tersedia obat untuk virus influenza namun obat ini masih sulit memperolehnya dan penggunaannnya harus sedini mungkin sebaiknya dalam 48 jam pertama terkena flu,” ujar Samsuridjal.

Penderita asma juga harus menghindari influenza karena influenza dapat menyebabkan serangan Asma. Selain itu, pada musim ini, penyakit seperti demam tifoid, disentri, hepatitis A juga rentan ditularkan melalui makanan akibar berkurangnya ketersediaan air.

Pencegahan demam tifoid dapat dilakukan dengan cara menghindari kontak dengan kuman yang mencemari makanan atau minuman. Penyakit ini juga dapat dicegah dengan vaksinasi demam tifoid yang memberikan perlindungan penularan penyakit demam tifoid untuk 3 tahun. Diare dan disentri juga dapat disebabkan oleh makanan dan minuman yang tercemar.

“Jika ada hujan maka sumber air minum harus dijamin kebersihannya,” tambah Samsuridjal.

Pada situasi banjir juga penduduk mengalami keterbatasan dalam banyak hal termasuk keterbatasan dalam makanan dan minuman. Sehingga, baik penduduk yang rumahnya terkena banjir maupun penduduk yang mengungsi dapat mengalami diare jika sumber air bersih tak mencukupi.

Sumber air untuk mandi juga biasanya terbatas sehingga penyakit kulit juga akan meningkat. Jika terjadi penyakit kulit diperlukan obat khusus untuk mengatasi penyakit namun jangan lupa menyediakan air bersih agar penyakit kulit tak berulang.

Kita sebenarnya beruntung karena negara kita tidak berkecenderungan mengalami musim yang ekstrim. Meskipun demikan, upaya menghadapi musim hujan harus dilakukan dengan baik. Periksalah apakah ada bagian atap yang bocor, saluran air di muka rumah yang tersumbat. Jangan dibiarkan genangan air baik di kaleng, ban atau tempat penampungan air karena mengundang risiko berkembangbiaknya nyamuk demam berdarah.

“Hujan memang dapat mengundang penyakit namun jangan dilupakan hujan juga merupakan hadiah yang berharga dari Tuhan karena dengan adanya hujan banyak tumbuhan dan hewan yang dapat melanjutkan kehidupannya,” jelas Samsuridjal.
Read more...

Resolusi 2010.. biar telat asal selamat


Happy New Year! (telat banget g sih!!)

2009 jadi amazing year buat gw.. tahun 2009 jadi tahun penuh tawa, tangis, travelling, tugas, pengalaman, ilmu, pertemanan..

Di 2009 ada perjalanan-perjalanan hidup Yang hebat..
Mulai dari Kuliah, dJ, HMJ, KKN 5 minggu dan UjungGenteng dkk, Indepth, SempuMalang, Bali dan tragedi MubesdJ, JurnalPerempuan, feminisme, RUU Rahasia Negara, OJ, Konser2Aneh, dan Banyak Kejadian lain

2009 Penuh Warna bangett..dan mari kita warnai juga 2010 dengan
JOBTRAINING-SEMINAR-SKRIPSI-LULUS!!!!
oia.. seminar RUU rahasia Negara juga! tinggal 1 minggu lagi loh!

Yuk mari kita lulus 2010.. tapi tempat Job saja masih bingung.. masa mau job maret? Tapi itu di bisnis Indo.. arghh!! Bingung.
Resolusi yang lain? kapan2 aja deh..
Read more...

Pantaskah Dijuluki Agent of Change??

Semalam, saya baru saja berbincang-bincang dengan seorang teman. Dia lihat status saya di YM yang menyebutkan kalau saya sedang berkutat dengan HAM. Sebenarnya saya bilang begitu karena sedang membaca sebuah handout dari diskusi panel soal institusionalisasi akuntabilitas pelanggaran HAM yang gw ikutin hari kamis, 10 desember kemaren pas hari HAM sedunia.

lalu berbincang-bincanglah kami tentang parahnya pemerintahan Indonesia dan keanehan atau abstranya penanganan dalam memperlakukan pelanggaran HAM.
Misalnya saja, pengadilan HAM yang cuma ada di Indonesia. DI negara lain, kejahatan HAM diusut dengan pidana atau perdata saja.

Lalu, apa sih hukuman bagi pelanggar HAM? APa yang kemudian dilakukan pemerintahan Indonesia?

Pelanggar HAM itu kan kebanyakan pemerintah, atau militer. Sebenarnya bisa saja pihak swasta. Nah, yang selama ini sering terjadi kan oleh militer.
Di AS, jika terjadi pelanggaran oleh militer, kata temen saya itu, maka si tentara itu diadili di pengadilan militer, jika terbukti bisa dipecat, dan kemudian diadli di pengadilan biasa.

Nah, kalo di Indonesia? Wiranto saja yang jelas-jelas terbukti bersalah sampe sekarang masih bisa hahahihi. Malah berani nyalonin diri jadi presiden. Macam mana coba?

Perbincangan kami kemudian berlanjut pada pengalaman saya iku dalam pemutaran film ham dan disusi panel yang diadain Fakultas Hukum Unpad itu.

Menurut saya, acara HAM itu cukup besar, spanduknya besar di pampang di kampus dipati ukur (pusatnya UNpad. Karena rektorat ada di Dipati Ukur), ada pengumumannya di website Unpad, dan yang paling penting adalah gratis (mahasiswa kan hobinya cari geratisan, termasuk saya).

Tapi? spanduk besar dan pengumuan di website ternyata tidak membawa dampak signigfikan. Buktinya, yang datang sangat sedikit.

Ketika saya ikut dalam pemutaran filmnya saja, di dalam ruangan tidak ada 50 orang.. mungkin sekitar 30 orang. Lebih parahnya, sebagian besar adalah panitia. Dilihat dari almamater yang digunakan.

Pada saat diskusi panel juga demikian. Tidak jauh berbeda kondisinya. Memang, diskusi panel ini ada 3 bagian di waktu yang sama. Namun, melihat jumlah mahasiswa Unpad saja yang cukup banyak. Bukan mahasiswa Unpad deh, mahasiswa yang ada di dipati ukur kan banyak, mahasiswa hukum juga sebenarnya banyak. Tapi kenapa peserta acara ini sedikit. Segitu tidak tertariknya kah? Segitu tidak pedulinya kah?

Mahasiswa-mahasiswa yang katanya kaum intelektual, kemana mereka saat diskusi inteletual soal masalah bangsa seperti ini?

Mereka atau kita, justru memilih menonton endah resha dan erk dibandingkan ikut diskusi.

Saya bilang begini ke teman saya:Menurut lo? Mahasiswa sekarang yang apatis, atau mahasiswa dari dulu sudah apatis? (saya berpikir, sebenarnya mahasiswa dari dulu juga banyak yang apatis).
Teman saya menjawab: sama aja. dari dulu memang banyak mahasiswa yang apatis. Tapi kalau dulu itu masih ada yang vokal, sekarang g ada.

Dia cerita, beberapa waktu yang lalu dia miris mendengar ketika akan ada demo anti korupsi 9 desember kemarin, seorang mahasiswa berkata, untuk apa demo, tugas mahasiswa kan belajar.

Lalu, dimana peranan mahasiswa yang katanya agent of change? bingung jadinya, siapa sih sebenarnya yang membuat istilah itu?

oia, dari obrolan itu, saya baru tahu kalau ternyata peristiwa 98 itu bukan digerakkan oleh mahasiswa. Tapi ada orang2 dibelakang. Jadi mahasiswa cuma bergerak di lapangan saja.Hmmm... sepertinya saya memang perlu banyak membaca sejarah.

Ada lagi, belakangan ini saya sedang tertarik dengan feminisme dan mengangkat pergerakan perempuan sebagai topik tugas indepth reporting saya dan seorang teman yang punya minat yang sama.

Tapi apa pendapat teman yang lain? Mereka kemudian meledek saya, hati2 aja ntar jadi aktivis perempan, jadi feminis.

Memang kenapa jika menjadi feminis atau aktivis perempuan? toh mereka berbuat lebih banyak ketimbang orang-orang yang bisa cuma berbicara nggak jelas mengkritik mereka tanpa berbuat lebih, padahal mereka yang mengkritik tidak tahu apa itu feminisme dan apa yang sudah dikerjakan aktivis-aktivis peremuan selama ini yang mungkin hasilnya mereka nimati sekarang.

Bukan cuma itu, teman diskusi saya di YM tersebut juga sama. DIa diledek karena membaca buku-buku kiri, marxis dan teman-temannya. Padahal, saya yakin seyakin-yakinnya. Teman saya yang meledek teman saya yang membaca buku marxis ini pasti belum pernah membaca buku-buku itu secara keseluruhan, bahkan mungkin belum pernah menyentuh, hanya mendengar.

Kebanyakan bespekulasi dan berbicara bukan berdasarkan fakta dan pengalaman pribadi, tapi hanya dengar-dengar, saya pikir banyak mahasiswa yang seperti itu. Lalu, bagaimana nasib bangsa ini.

Saya sekarang sedang mencoba belajar banyak hal dan menghargai segala hal. Takut akhirnya saya justru seperti apa yang saya kritik. Bukan saya merasa lebih dari siapapun atau merasa paling benar, ini hanya ungkapan kegusaran saya.
Read more...

Ternyata Bus Trans Jakarta Serakah


Selasa kemarin, saya pergi ke Jakarta lagi. Kenapa saya bilang lagi? Karena memang senin pagi saya baru kembali dari Jakarta. Badan rasanya remuk mondar-mandir Jakarta-Jatinangor-Jakarta-Jatinangor dalam 2 hari. Bahkan karena kelelahan akibat mondar-mandir itu, kini saya terserang flu.

Memang sejak jumat kemarin saya sudah kembali ke Jakarta, biasa, agenda rutin pulang ke rumah. Tapi karena harus mengurus proposal, maka seninnya, saya harus kembali ke Jatinangor terlebih dahulu. Padahal selasa pagi saya ada kegiatan di Jakarta. Sialnya, ternyata proposal belum selesai, dan itu berarti saya sia-sia kembali ke Jatinangor.

Selasa pagi itu, saya dibangunkan pukul 5 pagi oleh alarm handphone. Suaranya nyaring dan mengganggu. Saya yang baru tidur pukul 2 pagi cuma sanggup mematikan alarm handphone. Setelah berjuang melawan kantuk, saya akhirnya benar-benar bangun pukul 05.40. Saya pun bergegas mandi dan rapi-rapi.

Dari kosan saya berangkat menggunakan angkot menuju cileunyi. Selama perjalanan saya masih menimbang-nimbang, sebaiknya pergi atau tidak ke Jakarta. Di satu sisi, bnyak sekali pekerjaan di Jatinangor. Di sisi lain, takut menyesal jika tidak ikut pelatihan di Jakarta.

Ketika di dalam angkot, saya sudah berpikir tidak akan jadi pergi jika bus ke Jakarta tidak datang hingga pukul 7. Namun, rupanya sudah takdir saya untuk pergi, ketika saya sampai di cileunyi, bus itu sudah nangkring di depan halte. Oke, saya pun akhirnya berangkat.

Untungnya perjalanan Bandung-Jakarta tidak terlalu macet. Anehnya, kemacetan aru terjadi di aerah kampung rambutan yang sudah sangat dekat dengan tujuan saya,pasar rebo.

Sampai di pasar rebo, naiklah saya ke bus trans Jakarta dengan tujuan Kampung Melayu. Ketika itu, kira-kira waktu sudah menunjukkan pukul 8.45. Padahal saya ditunggu di tebet pukul 10.30.

Harapan saya naik bus trans Jakarta bisa menghemat waktu, pupus begitu saja ketika melihat busway macet. Kenapa busway bisa macet? aneh sekali bukan? Bus trans Jakarta kan punya jalur sendiri dan dibuat untuk menghindari kemacetan.

Gimana nggak macet, jika busway yang jelas-jelas jalur untuk bus, khususnya bus trans Jakarta, justru diisi oleh bus-bus lain, mobil angkot, mobil pribadi, dan motor. Jadi percuma saja ada busway kalo begitu.

Tapi hal seperti ini sudah biasa di Jakarta. Bahkan ketika jalan tidak terlalu padat pun, banyak kendaraan di luar bus Trans Jakarta terkadang lebih memilih menggunakan busway. Entah apa alasannya, hal ini sering sekali saya temukan.

Meskipun, hal seperti ini sebenarnya aneh dan sangat-sangat mengganggu, tapi masih ada hal yang menurut saya lebih "gila" lagi.

Ketika itu, bus trans Jakarta yang saya naiki sedang berada di daerah Keramat Jati dan mengalami kemacetan. Di depan bus trans Jakarta yang saya naiki terdapat bus trans Jakarta juga. Baik busway atau jalur biasa, sama saja macetnya ketika itu. Bahkan jalur biasa jauh lebih macet. Yang membuat saya tidak habis pikir adalah ketika sopir bus Trans Jakarta tiba-tiba keluar dari busway dan mengambil jalur biasa yang kondisinya lebih macet.

Hal ini membuat saya bingung sekaligus senewen. Ketika itu saya sedang diburu-buru tapi bus trans Jakarta ini justru memilih semakin menjerumuskan diri ke kemacetan. Ternyata setelah saya pikir, mungkin sopir bus ini mengambil jalur lain karena di jalurnya ada juga bus trans Jakarta lain yang posisinya persis di depan. Mungkin ia sengaja ingin membuat jarak dengan bus trans Jakarta lainnya. Dugaan saya beralasan, karena memang setelah bus trans Jakarta itu jaraknya sudah tidak terlalu dekat, bus yang saya naikin kemudian memasuki busway lagi.

Alasan itu sepertinya bukan membuat saya maklum, tapi justru semakin senewen. Kenapa harus menjaga jarak? Toh bus trans Jakarta selalu ramai penumpang, bahkan sampai-sampai manusia dipepet-pepet seenaknya. Lalu apa untungnya saya naik busway tapi jalurnya sama saja dan tetap terkena macet dan berpepet-pepetan? Belum lagi fasilitas, seperti halte yang semakin buruk.

Jujur, dulu ketika bus trans Jakarta baru beroperasi, saya sangat berharap bus ini bisa menjadi sarana angkutan umum yang nyaman, aman, cepat, dan cukup terjangkau. Apalagi ketika jalur Tanjung priok-Cilitan (domisili saya di Tanjung Priok ketika di Jakarta)ketika itu baru dibangun, banyak berharaplah saya. Saya berharap bus trans Jakarta akan mempermudah mobilisasi saya karena dapat menjangkau banyak tempat dengan sekali bayar, nyaman, dan terhindar dari macet.

Tapi, kenyataannya? Sudah macet, pepet-pepetan, dan yang lebih mengecewakan, meskipun jalur Tanjung Priok-Cilitan sudah rampung sejak dua tahun lalu , jalur ini tidak juga dioperasikan. Tanya sama Pak Fauzi Wibowo kenapa?

Padahal, pasti sudah banyak dana yang dikeluarkan. Parahnya, shelter-shelter yang sudah di bangun sudah mulai rusak sebelum digunakan sebagaimana mestinya. Belum selesai permasalahan busway, pemerintah justru menawarkan moda baru yaitu kereta api bawah tanah. Hal ini dipamerkan di Jakarta Fair. Saya kemudian teringat pada proyek monorel yang sudah mengeluarkan biaya miliaran tapi akhirnya malah tidak jadi.

Padahal ketika proyek monorel ini dibangun, pemerintah juga sedang merampungkan proyek busway. Anehnya lagi, kenapa dari awal tidak menggunakan monorel yang jelas-jelas tidak memakan tempat. Malah ketika proyek busway yang baru berjalan sebentar itu, pemerintah buru-buru membangun monorel. Namun, entah mengapa, kurang jelas alasannya, monorel dihentikan dan tidak dilanjutkan padahal sudah mengeluarkan biaya miliaran rupiah. Busway pun hingga sekarang tidak juga rampung. Masih banyak tempat yang belum terjamah. Bahkan beberapa jalur yang sudah selesai, tidak juga digunakan hingga fasilitasnya pun rusak.

Bagaimana permasalahan kemacetan bisa selesai, kalau selalu saja mencari solusi baru, tanpa konsisten merampungkan solusi yang lama.
Read more...